5 Alasan yang Buat Naik Gunung Itu Candu. Nggak Bakal Ada Kata Kapok Deh!

5 Alasan yang Buat Naik Gunung Itu Candu. Nggak Bakal Ada Kata Kapok Deh!

Ada yang bilang bila kapoknya naik gunung tersebut kayak kapoknya orang abis santap sambel yang pedes banget. “Abis ini nggak lagi-lagi, deh.” Tahu-tahu ngajak lagi.

Kenapa ya masih aja terdapat yang inginkan naik gunung sebenarnya naik gunung tersebut capek bangeet? Kenapa terdapat aja orang yang sampe ketagihan muncak? Enakan di lokasi tinggal tiduran seraya nonton Youtube. Sebagian orang akan nanya kayak gitu. Atau anda jangan-jangan pernah ditanyai kayak gitu bro?

Kalo iya, berarti sama. Nah, kali ini yuk anda bareng-bareng jawab dan ngejelasin mengapa naik gunung tersebut nagih sebenarnya cuapeknya mohon ampun, hehehe. Siapa tahu abis baca ini, mereka yang nanya justeru jadi ikutan ketagihan, hahaha.

Enggak terasa bila mendaki gunung membuat tidak sedikit orang tidak jarang kali rindu. Rindu suasananya, pemandangannya, perjalanannya, bau keringetnya, emba-emba pendaki cantiknya, bapernya dan tidak sedikit lah. Bahkan tidak tidak sedikit juga seseorang pernah kepikiran kalau dapat begitu sukanya dengan namanya memanjat gunung.

So, mengapa masih aja naik gunung padahal tersebut melelahkan seperti menantikan kepastian eh

1. Nggak Kayak di Rumah
Pasar dieng Gunung Arjuno

Nggak hanya gunung sih, pantai sama spot traveling lainnya juga sama. Mereka seluruh nggak kayak lokasi tinggal kita. Pastinya masing-masing spot punya keunikannya tersendiri, kayak bila gunung tersebut identik sama ketinggian, ketenangan, sama hutan.

Kalau ke gunung, yang biasa lihat kerjaan jadi lihat langit lebih dekat, yang biasa kejebak macet jadi kejebak di tengah hutan yang hijau dan nyegerin. Pengalaman-pengalaman kayak gini nih yang ngak ketemu bila di lokasi tinggal aja. Jadi meski capek, tetep deh pengen naik lagi dan nikmatin hidup di gunung meski cuma sebentar.

2. Rasa penasaran dan Ingin Disebut Pendaki?
Ingin menjadi pendaki

Dorongan yang powerful mendorong guna naik gunung ialah rada penasaran. lagipula di zaman kini yang orang dengan gampang membagi gambar-gambar mengenai indahnya pemandangan digunung. Terprovokasi tersebut lama-lama pun merengek-rengek minta disuruh naik gunung.

Cie ileh, pendaki nih ye… Dulu, ini kisah dulu, kenapa desakan mendaki di samping penasaran juga hendak disebut sebagai pendaki. Kelihatannya sih, gagah, keren, penyuka alam, anak kebon, dan lain-lain. Tapi, semakin sering memanjat maka semakin sadar, menyandang title pendaki tersebut sebenarnya tidak sedikit rasa enggak enaknya. Coba deh lihat gunung-gunung sekarang, sampah, batu dicoret-coret, edelweis di petik, terdapat warungnya, barangkali kedepannya di gunung akan ada hotel Bintang tujuh.

Title pendaki pun identik dengan penyuka alam, sementara mereka pendaki amatir? Enggak pernah terdapat kontribusi besar dalam melestarikan alam, dalam konteks artikel ini ialah gunung. Casinoroyal7 Bahkan sandangan tersebut, lebih senang dengan nama penikmat alam, melulu sekedar merasakan dalam batas lumrah dan berjuang tidak merusak lagipula mengotori tempat-tempat wisata alam, terutama gunung.

3. Banyak Cerita, Terutama di Perjalanannya
Menapak diatas kayu

Sepakat nggak? Orang yang biasa naik gunung tersebut gak hanya punya tidak sedikit pengalaman tapi pun cerita. Biasanya, kisah mistis ialah yang sangat ‘hot’. Padahal kisah di gunung 1 dan gunung lainnya tentu beda. Makanya, bila sudah ngalamin kisah horor yang kesatu, tentu deh pengen lagi ngalamin yang lain.

Tapi tersebut gak seluruh kok, ada pun yang suka kisah perjalanannya terus dibuat blog kayak gini. Contohnya kayak pas di perjalanan capek terus nggak jadi sampe puncak, atau kisah pas tersesat. Semua akan jadi kisah seru.

Dan tahu nggak? Orang naik gunung tersebut lebih lama di perjalanannya daripada di puncaknya. Jadi keseruannya lebih pada perjalananya, lagipula kalau sama gebetan eaa. Inilah mengapa orang masih pengen aja naik walau tersebut melelahkan.

4. Mengukur Batas Diri
Imposible

Setelah rasa penarasaran terlunasi, dan walaupun menikmati sakit saat pendakian kesatu tidak menciptakan seseorang menjadi jerah-rasa kapok, justeru menjadi candu. Untuk yang termasuk pemula dalam pekerjaan pendakian gunung dan sekitar dapat di ukur sejauh mana batas diri dapat dalam pendakian?

Sejauh mana kaki ini dapat melangkah? Seberguna apa diri ini dalam team pendakian? Seberapa tidak sedikit pelajaran yang dapat diambil? Berapa tidak sedikit nomer cewe yang dapat didapat saat mendaki? Maka dalil kedua ini pun sering didpati jawabannya dan tidak jarang kali jadi bahan penilaian dan semangat tersendiri untuk para pendaki.

5. Banyak Hal Baru
Ruang publik

Hal baru di atas gunung tersebut contohnya ketemu sama orang yang lain dengan orang di dekat rumah atau lokasi kerja kita. Biasanya mereka pun punya kebiasaan yang beda. Karena pendaki itu ialah tamu, maka usahakan dianjurkan buat memuliakan adat setempat.

Dan menurut keterangan dari pendapat individu sih, orang-orang yang suka naik gunung itu ialah mereka yang open-minded, terbuka, dan suka bakal hal baru. Orang-orang laksana ini perlu tantangan yang buat mereka lebih ‘hidup’ dalam menjalani hidup.

Kebalikannya, orang yang tertutup ingin ogah naik gunung. Apalagi mereka gak minat sama yang namanya petualangan. Yang urgen hidup, dapet duit, dan gak butuh ‘buang duit’ cuma sebab pengen muncak. Nah, sebab selalu perlu tantangan dan urusan baru, semua pendaki dan pengembara akan tetap naik lagi walau melelahkan.

Kira-kira lagipula ya dalil kenapa anda masih aja inginkan naik gunung sebenarnya itu buat capek? Tulis aja di komentar, siapa tau dapat melengkapi tulisan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *